Teknologi AI & Cloud di Stop App Bantu Cegah Human Trafficking

PERMASALAHAN perdagangan manusia masih terus menelan korban hingga saat ini. Tercatat 40 juta orang menjadi korban pedagangan manusia denga dua pertiganya berasal dari kawasan Asia Timur dan Pasifik berdasarkan data ILO dan Walk Free Foundation 2017.

Di Indonesia, tindak pidana perdagangan orang (TPPO) direspons dengan membentuk 13 satuan tugas penegakan hukum perdagangan orang serta tiga satuan tugas antarlembaga tingkat daerah dan tingkat kabupaten.

CEO dan Chariman IBM Asia Pacific Harriet Green mengatakan, secara global, perdagangan manusia juga menjadi perhatian IBM. Dengan menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM) Stop The Traffik mengembangkan aplikasi yang mendeteksi perdagangan manusia.

Aplikasi gratis bernama Stop App itu, kata Green dikembangkan oleh tim TechForGood IBM Irlandia dan pakar perdagangan manusia di Stop The Traffik.

Green sendiri dalam keterangan tertulisnya menungkapkan bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi, Artifical Intelligence (AI) atau bahasa umumnya kecerdasan buatan dan Cloud on mobile mampu memberikan sedikit angin segar bagi pemerintah dan lembaga terkait

President Director of IBM Indonesia, Tan Wijaya mengatakan, Stop App bekerja dengan bantuan analisis intelijen IMB i2, sehingga mampu menemukan hotspot dan tren global dalam perdagangan manusia.

Dengan mengimpor 100.000 baris meta-data berbasis lokasi ke Notebook IBM i2 Analyst, analis dapat melihat kelompok kegiatan yang tersembunyi dan tidak akan dapat diungkap oleh cara traditional.

Dari belakang layar, para analis bekerja dengan perangkat lunak untuk menelusuri lokasi- lokasi yang dicurigai dan menambahkan atribut yang memperkaya analisisnya, menggunakan ikon dan kode warna untuk memvisualisasikan data.

Ujar tan “Adanya informasi ini dapat mempermudah banyak orang kepentingan untuk melihat dimana para pelaku perdagangan manusia bekerja, dan peta itu sendiri mudah disalin ke dalam dokumen kemudian dibagikan,” .

tan mencontohkan, lewat Stop App, Stop The Traffik mampu menemukan rute perdagangan manusia di Nigeria, berjalan melalui Libya, dan berakhir di Italia. Data itu kemudian digunakan untuk melakukan kampanye media sosial yang menargetkan 8 lokasi di sepanjang rute agar menarik atensi masyarakat dan penegak hukum.

Stop App dapat diunduh secara gratis. Penggunanya dapat mengirimkan data berupa gambar, video, rekaman, suara, atau bukti lain dalam aplikasi. Namun, IBM mengimbau pengguna Stop App untuk lebih dulu melapor ke pihak berwenang bila ditemukan bukti kuat tindak pidana perdagangan manusia.

Data yang masuk ke Stop App dianalisis bersama dengan beberapa set data berbeda tentang perdagangan manusia dan aktivitas perbudaka nmodern lainnya. Analis mengubah data mentah menjadi sebuah data yang komprehensif yang dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang aktivitas perdagangan manusia secara global.

Data komprehensif tersebut dikembangkan menjadi laporan yang informatif dan mudah dicerna, yang kemudian dibagikan dengan otoritas, organisasi, komunitas, dan individu yang tepat untuk memungkinkan respons yang terinformasi dan terarah untuk mencegah dan memerangi perdagangan manusia.

“Kekuatan AI, Machine Learning dan Cloud diharapkan juga mampu untuk menjadi solusi untuk praktek-praktek (pencegahan) perdagangan manusia di Asia khususnya di Indonesia,” pungkas Tan. (RO/OL-7)